Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

Belajar dari Indonesia
Belajar dari Indonesia

Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah.

Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun.

Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa.

Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata.

Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus “membuktikan diri” agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Kemudian saya mengenal makna ikhlas.

Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi.

Namun, yang paling membekas justru bukan semua itu.

Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui.

Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri.

Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi.

Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem.

Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta.

Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait