Fortifikasi Beras Massal Jadi Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi

Fortifikasi Beras Massal Jadi Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi
Fortifikasi Beras Massal Jadi Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi

Sektor penggilingan padi di Indonesia sangat terfragmentasi, melibatkan banyak operator mulai dari fasilitas industri skala besar hingga penggilingan kecil di pedesaan.

Realitas ini membuat penyelarasan regulasi, standarisasi pengawasan mutu, dan keseragaman distribusi menjadi tantangan tersendiri.

Saat ini, beras fortifikasi masih menjadi barang mewah yang ceruk pasarnya terbatas, dikemas sebagai produk khusus di rak-rak supermarket premium dan lebih banyak dijangkau kelompok ekonomi tertentu.

Padahal, peluang sesungguhnya untuk mengubah tren kesehatan publik berada di tempat lain: menyasar kelompok rentan melalui bantuan pangan pemerintah, intervensi kesehatan ibu dan anak, serta program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).

Terkait MBG, pihaknya telah membicarakan agar program beras fortifikasi bisa masuk. Selama ini, garam dan minyak goreng yang digunakan dalam program MBG sudah terfortifikasi.

Menepis Mitos Modern

Di luar persoalan logistik, strategi ini harus berhadapan dengan tantangan persepsi publik dan penataan pasar.

Nina menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat masih sangat rendah, membuat pasar rentan terhadap disinformasi termasuk hoaks viral terkait isu “beras plastik” yang sempat merusak kepercayaan konsumen.

Selain itu, harga juga masih menjadi isu sensitif. Selama ini beras fortifikasi kerap dikategorikan sebagai beras khusus dengan bahan baku beras premium, sehingga harganya relatif mahal.

Pembangunan industri FRK (Fortified Rice Kernels), memperkuat penggilingan dan membuka jalan distribusi komersial menjadi salah satu usulan dari panel yang terdiri dari pelaku industri beras.

Forum yang berlangsung hari Rabu ini berupaya menjembatani kesenjangan tersebut, mempertemukan pelaku penggilingan padi, ritel modern, dan pegiat fortifikasi gizi dalam satu atap.

“Saya yakin bahwa dengan acara hari ini, permasalahan itu baik teknis maupun nonteknis, bisa sama-sama kita diskusikan, sehingga bisa kita atasi,” tutur Nina.

Evelyn Djuwidja, Program Manager TechnoServe Indonesia organisasi yang saat ini menjalankan inisiatif Millers for Nutrition memandang pertemuan multi-sektor ini sebagai langkah awal yang vital.

“Forum ini telah membuka peluang besar bagi rekan-rekan RMU (Rice Milling Units/penggilingan padi) dan ritel modern untuk saling bekerja sama,” ujarnya.

“Millers for Nutrition berkomitmen untuk terus mendampingi penggilingan padi dalam menjaga kualitas gizi produk, membantu efisiensi produksi, dan memfasilitasi hubungan bisnis agar kerja sama dengan ritel modern dapat berjalan dengan lancar, sehat, dan saling menguntungkan dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait