BPOM Ajak Masyarakat Lindungi Jamu dari Bahan Kimia Obat

UPT BPOM di Jawa Timur dan Buleleng Ajak Masyarakat Selamatkan Masa Depan Jamu Indonesia dari Ancaman Bahan Kimia Obat
UPT BPOM di Jawa Timur dan Buleleng Ajak Masyarakat Selamatkan Masa Depan Jamu Indonesia dari Ancaman Bahan Kimia Obat

JAKARTA, CILACAP.INFO – Di tengah meningkatnya tren hidup sehat dan konsumsi produk herbal, ancaman jamu mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) masih menjadi perhatian serius.

Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, Unit Pelaksana Teknis BPOM di wilayah Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menjamu Masa Depan dengan Jamu Aman Bebas BKO”  dalam rangkaian Pekan Jamu Nasional 2026.

Kegiatan ini menjadi wadah edukasi sekaligus ajakan bagi masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih Obat Bahan Alam (OBA). Sebab, di balik janji “sembuh cepat” dan “khasiat instan“, masih ditemukan produk yang mengandung BKO dan berpotensi membahayakan kesehatan.

Padahal, jamu merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta telah menjadi bagian dari identitas Indonesia selama ratusan tahun. Karena itu, peredaran jamu yang dicampur BKO tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan terhadap jamu Indonesia.

Ancaman tersebut tercermin dari data BPOM yang menunjukkan temuan OBA mengandung BKO meningkat dari 54 kasus pada 2023 menjadi 104 kasus pada 2024, lalu melonjak menjadi 187 kasus pada 2025.

Hingga Triwulan I Tahun 2026, masih ditemukan 33 kasus yang menandakan persoalan ini belum sepenuhnya teratasi. Produk-produk tersebut umumnya menawarkan klaim hasil instan atau “cespleng“, yang kerap menjadi daya tarik utama bagi konsumen tanpa menyadari risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan.

Yudi Noviandi, M.Sc., Tech., Apt, Kepala Balai Besar POM di Surabaya, menegaskan bahwa Pekan Jamu Nasional menjadi momentum penting untuk mendorong jamu Indonesia yang lebih aman dan berdaya saing.

“Kami ingin memperkuat kolaborasi berbagai pihak untuk mendukung inovasi, pemasaran, dan pengembangan UMKM jamu agar semakin dekat dengan generasi muda serta mampu bersaing di pasar yang lebih luas.”

Menurut BPOM, tingginya permintaan pasar menjadi salah satu faktor yang mendorong masih beredarnya produk mengandung BKO. Oleh karena itu, peningkatan literasi masyarakat menjadi langkah penting agar konsumen tidak mudah tergiur oleh klaim hasil cepat yang sering digunakan untuk memasarkan produk ilegal.

Sejalan dengan upaya tersebut, Benny Hendrawan Prabowo, S.Farm., Apt., Kepala Balai POM di Jember, berharap momentum Pekan Jamu Nasional dapat mendorong semakin banyak produk jamu asli Indonesia yang bebas BKO.

“Jamu harus terus berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern sehingga generasi muda dapat mengonsumsinya dengan aman, nyaman, dan penuh keyakinan.”

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait