Biosolar kotor yang ditreatment Oilos menghasilkan pembakaran yang jauh lebih sempurna. Dosis pemakaian: 1 ml per 4 liter BBM. Produk ini sebelumnya telah diivalidasi oleh 3 lembaga independen: LEMIGAS, UNSOED, dan DISHUB. Alhasil penghematan bahan bakar bisa mencapai 25% dan reduksi emisi pun mencapai 40%.
Perbandingan Dexlite dengan harga Rp 24.150 per liter dan konsumsi 200 liter per bulan menghasilkan biaya BBM sebesar Rp 4.830.000 per bulan.
Sementara itu, Biosolar + Oilos dengan harga Rp 6.800 per liter menggunakan 150 liter per bulan (hemat 25%), sehingga biaya BBM Rp 1.020.000. Ditambah Oilos 60 ml (1 botol/bulan) sebesar Rp 125.000 dan filter solar (per 5.000 km) Rp 100.000, total biaya per bulan menjadi Rp 1.245.000.
Asumsi: Fortuner diesel, 2.000 km/bulan, konsumsi 10 km/liter → kebutuhan 200 liter/bulan. Efek penghematan 25% Oilos → konsumsi turun ke 150 liter.
Sebagai informasi, BBM bersubsidi (seperti Pertalite dan Biosolar) memang membantu secara ekonomi, namun memiliki karakteristik yang perlu diwaspadai jika digunakan pada mesin kompresi tinggi:
● Penumpukan Karbon: Pembakaran yang tidak sempurna meninggalkan sisa kerak di piston dan katup.
● Gejala “Ngelitik” (Knocking): Ledakan bensin yang tidak tepat waktu membuat mesin bergetar dan cepat panas.
● Penurunan Performa: Tarikan terasa berat dan konsumsi BBM justru jadi lebih boros karena mesin bekerja ekstra keras.
Produk aditif organik yang ramah bagi mesin seperti Oilos membantu permasalahan BBM bersubsidi di Indonesia. Produk ini merupakan “suplemen multivitamin” bagi mesin yang sudah diuji di Lemigas secara ilmiah. Produk ini sudah bisa dibeli di beberapa marketplace online di Indonesia.
Ramai beredar di media sosial, beberapa pengguna SUV modern trend-nya mulai beralih memanfaatkan produk ini. Seperti akun @jarvisjournal yang didapati melakukan review produk saat berada di tol Trans Jawa. Akun ini menjelaskan bahwa selain BBM mobilnya lebih hemat, tarikan mesin juga lebih kencang saat berada di jalur lurus.
Tampilkan Semua
