Ia juga membagikan prinsip kepemimpinan yang ia pegang dalam membangun tim.
“Cintai diri sendiri, cintai tim, dan cintai pekerjaan,” katanya.
Peran Laki-laki dalam Mendorong Kesetaraan
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dalam pidato kuncinya menyoroti aspek yang sering luput dalam diskusi kesetaraan gender, yaitu peran laki-laki sebagai bagian dari solusi.
Ia menegaskan bahwa perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan.
“Kalau kondisi perempuan ingin menjadi lebih baik, maka laki-laki juga harus berubah dan menciptakan ruang serta peluang,” ujarnya.
Dalam pidatonya, ia juga berbagi refleksi personal sebagai seorang ayah dari dua anak perempuan yang menghadapi tantangan di dunia kerja. Ia menekankan bahwa pengalaman tersebut membuka pemahamannya terhadap realitas yang dihadapi perempuan di lingkungan profesional.
Ia juga mengangkat contoh sejarah dari India, yakni sosok reformis sosial Maharshi Karve, yang berani menentang norma sosial pada masanya untuk memperjuangkan pendidikan dan hak perempuan.
“Perubahan nyata terjadi ketika ada keberanian untuk bertindak, bahkan ketika harus menghadapi tekanan sosial,” ujarnya, merujuk pada perjuangan tokoh tersebut.
Lebih lanjut, Sandeep menegaskan bahwa kesetaraan gender membutuhkan perubahan pola pikir yang lebih luas di masyarakat.
“Kesetaraan tidak akan tercapai jika hanya perempuan yang bergerak. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk laki-laki dalam posisi kepemimpinan,” tambahnya.
Perempuan dalam Media, Teknologi, dan Ekonomi Kreatif
Panel kedua menghadirkan Svida Alisjahbana sebagai CEO GCM Group sekaligus Chair Jakarta Fashion Week, serta Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Commissioner GoTo Group, dengan moderator Aparna Saxena.
Diskusi ini menyoroti perjalanan karier, kepemimpinan, serta tantangan perempuan dalam sektor yang terus berkembang, khususnya media dan teknologi.
Catherine menekankan pentingnya keberanian untuk terus berkembang di tengah perubahan yang cepat, terutama dengan hadirnya teknologi baru.
“Ketika kita mulai merasa nyaman, mungkin justru itu saatnya untuk menaikkan standar dan keluar dari zona nyaman,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kesetaraan tidak berarti menyeragamkan peran antara laki-laki dan perempuan.
“Setara tidak berarti harus sama, justru perbedaan itu yang menjadi kekuatan dalam kepemimpinan,” katanya.
Sementara itu, Svita menyoroti pentingnya kesiapan dalam menangkap peluang sebagai kunci kesuksesan.
“Keberuntungan itu terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa perempuan perlu terus membangun ekosistem yang saling mendukung agar dapat berkembang secara berkelanjutan di berbagai sektor.
Mendorong Aksi Nyata untuk Kesetaraan
Diskusi sepanjang acara menegaskan bahwa semangat Kartini tetap relevan dalam konteks modern, terutama dalam mendorong perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan di berbagai bidang.


