JAKARTA, CILACAP.INFO – Membawa akar DNA jenama Purana yang selama ini dikenal teguh melestarikan budaya, flora, dan fauna alam Indonesia, kini hadir sebuah evolusi baru di bawah naungan jenama Puragraph.
Dengan napas dan misi pelestarian yang sama, Puragraph menerjemahkan nilai historis warisan Nusantara dengan cara yang sama sekali berbeda: mengadaptasi kemegahan siluet bangunan heritage dan arsitektur peninggalan kolonial Belanda di Indonesia ke dalam bentuk kemeja dekonstruktif (deconstructed shirts) yang modern.
Menahkodai visi baru ini adalah Maritza Putri (25 tahun), generasi penerus kedua dari Purana yang kini mengambil peran sebagai Lead Designer Puragraph. Mewakili suara Gen Z, arahan kreatif Putri membawa sebuah misi dan harapan besar: agar DNA pelestarian budaya Purana dapat terus diteruskan, dihargai, dan dicintai oleh generasi muda.
Lahir dan dibesarkan di Solo—kota yang sarat akan sejarah—Putri sejak kecil terbiasa hidup berdampingan dengan megahnya arsitektur Indische peninggalan kolonial Belanda, mulai dari Benteng Vastenburg hingga Loji Gandrung. Rekaman memori visual dari masa kecilnya inilah yang kemudian ia tuangkan ke dalam koleksi perdananya.
Sebagai koleksi perdananya, Puragraph Vol. I hadir mendobrak pakem dengan palet warna yang sangat esensial dan minimalis, yakni hanya menggunakan warna dasar hitam dan putih. Pendekatan monokromatik ini dipilih untuk menonjolkan kekuatan struktur, garis batas, dan konstruksi busana yang terinspirasi langsung dari bentuk-bentuk arsitektur Indische dan Art Deco bersejarah tersebut.
Merayakan Hari Kartini, koleksi Puragraph Vol. I juga membawa napas emansipasi melalui rancangannya. Koleksi kemeja oversized dan dekonstruktif ini secara sadar mendobrak pakem busana heritage yang konvensional, menawarkan kebebasan bergerak tanpa batas bagi para perempuan modern. Siluetnya yang asimetris dan tegas merepresentasikan karakter perempuan masa kini yang mandiri, kuat, dan berani tampil beda.
Tampilkan Semua