Sementara itu, Patricia Lumbangaol dari PT Adaro Minerals Indonesia Tbk menyoroti potensi mineral metalurgi Indonesia yang dapat mendukung industri baja regional. Yohanes Kurniawan dari Indonesian Stainless Steel Development Association menambahkan bahwa penguatan industri stainless steel domestik harus diiringi kolaborasi teknologi dan pengembangan pasar.
Secara keseluruhan, panel ini menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan India memiliki fondasi kuat untuk membangun rantai pasok baja yang lebih tangguh, terdiversifikasi, dan berkelanjutan.
Indonesia dan Strategi Pengendalian Pasar Nikel
Sesi selanjutnya dibuka oleh Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).
Ia menyampaikan bahwa Indonesia kini menguasai sekitar 65 hingga 67 persen pasokan nikel dunia.
“Indonesia sekarang terlihat seperti OPEC-nya nikel. Kami adalah pengendali. Kami adalah penentu pasar,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan pengurangan kuota produksi 2026 telah mendorong kenaikan harga global secara cepat, sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan surplus pasar.
Selain itu, ia memaparkan keberhasilan hilirisasi nikel sejak larangan ekspor bijih mentah diberlakukan, yang kini menghasilkan puluhan fasilitas pengolahan dan produksi bahan baku baterai.
Ia juga mengajak investor India untuk masuk lebih aktif dalam ekosistem hilirisasi nikel Indonesia.
Mineral Kritis dan Perebutan Masa Depan Industri Global
Panel kedua bertajuk Critical Minerals: Policy, Technology and Future memperluas diskusi ke sektor mineral kritis yang menjadi tulang punggung transisi energi global.
Diskusi menghadirkan Charles Kho dari HSBC, Amitava Mukherjee dari NMDC Ltd, Manoj Kumar Behera dari PT Jindal Steel, serta Luke Mahony dari Danantara.
Amitava Mukherjee menekankan bahwa mineral kritis kini menjadi isu strategis nasional bagi banyak negara. Ia menyebut bahwa kerja sama antarnegara produsen dan konsumen menjadi kunci dalam menciptakan rantai pasok yang stabil. “Keamanan pasokan mineral adalah bagian dari keamanan ekonomi,” ujarnya.
Manoj Kumar Behera menyoroti peluang integrasi industri baja dan nikel antara Indonesia dan India. Menurutnya, kolaborasi dalam pengolahan dan hilirisasi akan menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan sekadar perdagangan bahan mentah.
Dari perspektif pembiayaan dan manajemen kinerja, Luke Mahony menekankan pentingnya efisiensi operasional dan tata kelola yang kuat agar proyek-proyek mineral kritis tetap kompetitif. Ia menyebut bahwa investor global kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dan transparansi.
Charles Kho dari HSBC menambahkan bahwa lembaga keuangan global siap mendukung proyek mineral kritis yang memenuhi standar tata kelola dan keberlanjutan internasional. “Proyek yang memiliki kepastian regulasi dan standar ESG yang jelas akan lebih mudah mendapatkan pembiayaan,” katanya.
Tampilkan Semua
