Pendekatan India terhadap AI tidak terbatas pada kemajuan teknis dan keuntungan ekonomi semata. India menargetkan dampak sosial-ekonomi yang nyata, dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan kesehatan, mengoptimalkan pertanian, mentransformasi pendidikan, serta memperkuat ketahanan iklim. Ambisi India adalah memberdayakan setiap warga negara dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan serta inklusif, khususnya bagi Global South. Laporan Stanford menempatkan India pada posisi ketiga secara global dalam hal daya saing AI. Peringkat ini menyoroti pertumbuhan pesat India dalam lanskap AI global. Laporan tersebut mengukur pertumbuhan dan inovasi AI dari tahun 2017 hingga 2024, yang mencerminkan meningkatnya talenta AI India, kapabilitas riset yang kuat, ekosistem startup yang dinamis, investasi dan dampak ekonomi, infrastruktur, serta kebijakan dan tata kelola.
Berlandaskan visi “Making AI in India and Making AI Work for India,” India meluncurkan IndiaAI Mission pada Maret 2024, dengan alokasi anggaran sekitar US$100 miliar selama lima tahun. Misi ini menjadi langkah penting dalam menjadikan India pemimpin global dalam kecerdasan buatan.
Sejak diluncurkan, misi ini telah menunjukkan kemajuan besar dalam memperluas infrastruktur komputasi nasional. Dari target awal 10.000 GPU, India kini telah mencapai 38.000 GPU, sehingga menyediakan akses terjangkau terhadap sumber daya AI berkelas dunia. GPU tersebut tersedia bagi para pengembang aplikasi dengan tarif bersubsidi, yaitu kurang dari satu dolar per jam. Salah satu pilar IndiaAI Mission, yaitu “AIKosh,” mengembangkan kumpulan data besar untuk melatih model AI. Platform ini mengintegrasikan data dari sumber pemerintah maupun nonpemerintah. AIKosh memiliki lebih dari 5.500 dataset serta 251 model AI dan teknologi bahasa yang mencakup 20 sektor. Melalui inisiatif seperti BHASHINI dan BharatGen, India mendemokratisasi akses terhadap alat AI multibahasa.
India dan Indonesia memiliki pendekatan bersama terhadap AI yang inklusif, yang didasarkan pada keyakinan kuat bahwa teknologi harus meningkatkan kualitas hidup dan memperluas peluang. AI tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai penggerak pembangunan yang sejalan dengan visi Viksit Bharat atau India Maju 2047 dan Indonesia Emas 2045. Dengan skala besar, demografi muda, serta ekosistem inovasi yang terus berkembang, kedua negara berada pada posisi yang kuat untuk menjadi pemimpin regional dalam AI yang bertanggung jawab.
Kedua negara kita juga menyadari bahwa keberagaman dan keseimbangan gender dalam ekosistem AI bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Bias dalam data akan menghasilkan bias dalam hasil. Inklusi dalam desain menentukan inklusi dalam dampak. Hal ini juga memperkuat alasan untuk mengembangkan bersama model AI multibahasa serta sumber daya bahasa yang dikembangkan secara lokal guna mengurangi bias data dan memastikan relevansi kontekstual bagi masyarakat Global South.
Tampilkan Semua
