SUMATERA UTARA, CILACAP.INFO – Di tengah upaya pemerintah memperkuat sistem logistik nasional, Stasiun Belawan mengukuhkan posisinya sebagai titik krusial (interaktor) yang menjembatani angkutan rel dengan gerbang ekspor-impor laut. Integrasi ini bukan sekadar soal pemindahan barang, melainkan upaya menciptakan efisiensi waktu dan biaya yang kompetitif.
Stasiun yang berada di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara tersebut memegang peranan krusial sebagai urat nadi distribusi komoditas unggulan Sumatera Utara menuju pasar global. Di stasiun tersebut merupakan lokasi tujuan akhir kereta api yang mengangkut beberapa komoditi seperti CPO (Crude Palm Oil), lateks dan petikemas sebelum dikirim ke luar Sumut dengan angkutan laut.
“Setiap harinya Stasiun Belawan melayani rata-rata 22 perjalanan kereta api barang yang datang dan berangkat menuju berbagai wilayah,” ungkap Plt. Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara Anwar Yuli Prastyo.
Sebagai stasiun muara bagi kereta api barang selama tahun 2025, Stasiun Belawan telah melayani sebanyak 83.760 ton CPO, 151.235 ton petikemas, dan 3.051 ton lateks yang dibawa dari berbagai wilayah sentra produksi, mulai dari Rantau Prapat, Asahan, hingga Lubuk Pakam dan sekitarnya, yang nantinya akan menjadi komoditas pemanfaatan eksport dan lokal.
“Sedangkan petikemas yang berhasil dimuat dan didistribusikan dari Stasiun Belaawan pada 2025 sejumlah 73.593 ton,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, stasiun ini terdapat fasilitas mesin bongkar untuk komoditi CPO dan juga lateks. Selain itu juga terdapat layanan pemuatan dan pembongkaran petikemas menggunakan alat berat seperti Reach Stacker (RS).
Lokasinya Stasiun Belawan yang berada di kawasan pesisir dengan ketinggian hanya +1,90 meter di atas permukaan laut (mdpl), membuat area stasiun menjadi langganan banjir rob (genangan akibat air laut pasang) yang kerap menggenangi kawasan tersebut sebulan sekali pada saat posisi bulan purnama.
Tampilkan Semua

