Film “Nia” kisah dari desa kecil di Sumatera, menggugah nurani seluruh Negeri.

7Aksara Komunika
7Aksara Komunika

Syakira Humaira,  pemeran utama sebagai Nia, mengaku harus menjalani pendalaman intens:

Saya belajar langsung ke warga Minang—bahasa, gestur, cara kerja, sampai interaksi sehari-hari. Tantangannya besar karena ini tokoh nyata dan kisahnya sangat menyentuh,” ungkapnya.

Qya Ditra,  pemeran Andri, menyebut peran antagonis ini sebagai yang paling berat dalam kariernya:

“Saya harus memahami pola pikir pecandu dan pelaku tindakan negatif. Itu sangat menguras emosi.”

Helsi Herlinda,  pemeran ibu Nia, mengaku proses syuting berlangsung sangat emosional:

Selama syuting saya memilih tidak bicara dengan Ditra. Saya harus benar-benar membenci karakternya untuk mendalami peran seorang ibu yang kehilangan anak.”

Aktor senior Zainal Chaniago bahkan menyebut film ini sebagai karya paling membekas dalam 35 tahun perjalanan kariernya—menandakan betapa kuatnya dampak emosional film ini bagi seluruh pemain.

Tim produksi berharap film ini dapat menjadi cermin sosial bagi masyarakat Indonesia.

Film ini tidak sekadar menggambarkan tragedi; ia menyoroti kerentanan perempuan, tekanan ekonomi, keterbatasan aparat di daerah, hingga pentingnya solidaritas warga.

Pesan yang ingin disampaikan jelas: Perlindungan terhadap perempuan bukan hanya tugas negara, tetapi tanggung jawab bersama.(Red)

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait