Anggia menjelaskan, setelah melakukan konversi sebagian kamar menjadi kamar ramah IQOS, pihaknya mencatat penurunan biaya operasional pengelolaan kamar merokok secara signifikan.
Sebelumnya, kamar merokok memerlukan perawatan yang jauh lebih intensif mulai dari pembersihan mendalam untuk menghilangkan bau asap rokok yang membandel, penggunaan ozon generator, hingga penggantian furnishing dan linen yang lebih sering akibat kerusakan atau bau yang terserap.
Dengan diterapkannya kamar ramah IQOS, yang tidak menghasilkan asap, api, maupun abu, intensitas pembersihan dapat dikurangi secara signifikan. Hal ini tidak hanya memperpanjang usia pakai aset, tetapi juga memungkinkan efisiensi anggaran yang kemudian dapat dialokasikan untuk peningkatan kualitas layanan lainnya.
“Saya sangat optimis dan yakin bahwa masa depan industri perhotelan akan semakin bergerak menuju lingkungan yang lebih bersih dan bertanggung jawab, dan produk bebas asap akan memainkan peran penting dalam transformasi ini. Pengalaman kami di Trans Luxury Hotel membuktikan bahwa adaptasi terhadap produk bebas asap bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Ini adalah investasi yang akan memberikan keuntungan ganda, efisiensi operasional dan peningkatan reputasi,” tutur Anggia.
Sampoerna juga menjalin kemitraan serupa dengan pengusaha UMKM di sektor kuliner. Chief Marketing Officer Maja Family, Omar Karim Prawiranegara, mengungkapkan trafik dan loyalitas pelanggan sejak menyediakan area ramah produk bebas asap mengalami peningkatan yang signifikan. Ia juga menyebut bahwa pendapatannya meningkat sekitar 25%.
“Kami berhasil menarik segmen pelanggan baru konsumen dewasa yang mencari tempat nyaman untuk bersantai tanpa mengganggu orang lain dengan asap atau bau. Mereka cenderung datang lebih sering, lebih lama, konsumsi makanan dan minuman lebih banyak. Tak jarang, mereka juga sering membawa teman sesama pengguna nikotin dewasa untuk ikut. Ini berdampak langsung pada peningkatan penjualan kami,” ujar Omar.
International Graffiti Artist, Darbotz, mengatakan bahwa sebagai pengguna IQOS, dirinya mengapresiasi keberadaan tempat khusus IQOS di beberapa tempat. Dengan demikian, ia tetap dapat menggunakan produk tembakau tanpa bau.
Lebih lanjut, ia mengakui bahwa keputusannya untuk beralih merupakan bagian dari upaya menghadirkan inovasi dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun pada awalnya sempat skeptis karena banyaknya informasi yang simpang siur mengenai produk bebas asap, pandangannya mulai berubah setelah mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai IQOS, serta melakukan riset mandiri. Dari situ, ia memahami bahwa produk ini tidak melalui proses pembakaran dan secara ilmiah lebih baik ketimbang rokok.


