Dari sudut pandang pengembang, Greenman-Ron dari Blockdev.id menambahkan bahwa jumlah developer blockchain di Indonesia meningkat drastis, bahkan mencapai 7-10 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, ia bersama tim Blockdev.id pernah mengadakan hackathon dengan peserta ratusan orang, bahkan ada anak usia 10-12 tahun yang sudah bisa menjadi developer. Dalam sesi diskusi, Ron juga membahas berbagai proyek Web3 yang sedang dikembangkan oleh komunitas di Indonesia yang berpotensi mempercepat adopsi kripto.
“Ngomongin blockchain, para builders (proyek Web3) itu banyak banget. Blockdev sendiri sudah mengadakan beberapa hackathon, dan beberapa contoh use case-nya adalah proyek Web2 untuk pencatatan data limbah, mutual aid crowdfunding, hingga proyek di sebuah kampus di Bandung yang menggunakan teknologi blockchain dan AI untuk menghitung air yang keluar dari toren di seluruh kampus setiap harinya. Tentunya itu adalah use case teknologi blockchain yang luar biasa,” jelas Greenman-Ron.
Dalam sesi tanya jawab, audiens juga menyoroti berbagai tantangan dalam adopsi kripto di Indonesia, termasuk beragam miskonsepsi yang masih beredar luas. Salah satu yang paling sering muncul adalah mengenai regulasi kripto di Indonesia. Putri Madarina menegaskan bahwa meskipun kripto tidak diijinkan diperlakukan sebagai alat pembayaran, aset kripto legal sebagai komoditas yang sebelumnya berada di bawah pengawasan Bappebti dan sejak Januari 2025 telah beralih ke OJK.
Selain itu, dari perspektif seorang edukator, Eko Mamahit mengungkapkan bahwa salah satu kesalahpahaman terbesar yang sering ia temui adalah anggapan bahwa seseorang harus memiliki dana besar untuk bisa berinvestasi dalam kripto.
“Banyak yang masih berpikir bahwa untuk membeli Bitcoin, mereka harus memiliki Rp1,6 miliar terlebih dahulu, padahal kenyataannya, Bitcoin dapat dibeli dalam pecahan kecil mulai dari puluhan ribu rupiah saja,” jelasnya.
Selain menyoroti terkait tantangan adopsi kripto, audiens juga membahas terkait Fasset yang memiliki pendekatan syariah dan inovasi zakat kripto
“Kami berkomitmen dalam menyediakan layanan yang sesuai dengan prinsip keuangan Islam. Kami fokus pada spot market dimana sifatnya murni jual beli aset tanpa unsur spekulasi berlebihan. Kami juga memiliki salah satu inisiatif terbaru yaitu Zakat Crypto. Fasset berencana berkolaborasi dengan salah satu platform zakat untuk memfasilitasi pembayaran zakat menggunakan aset kripto, sebuah langkah yang sudah diterapkan di Malaysia. Kami ingin menjadi exchange pertama di dunia yang memungkinkan pengguna membayar zakat kripto dengan mudah,” tutup Putri Madarina.
Tampilkan Semua

