Kolaborasi Jadi Cara UMKM Naik Kelas dan Perluas Pasar

Kolaborasi Jadi Cara UMKM Naik Kelas dan Perluas Pasar
Kolaborasi Jadi Cara UMKM Naik Kelas dan Perluas Pasar

Romulus menilai pendekatan tersebut penting karena pelaku UMKM yang telah berkembang dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada pengusaha lain. Efek berantai dari proses itu selanjutnya berpotensi menjangkau keluarga hingga komunitas di sekitar usaha.

“Bayangkan, ada berapa jumlah kepala keluarga yang Bapak dan Ibu bantu semua di sini. Itu yang membuat saya merinding,” kata dia kepada para Collaborator Hub yang hadir.

Menurut Romulus, semangat tersebut juga ditemuinya selama 18 tahun membina ekosistem SRC. Sejumlah pemilik toko kelontong anggota SRC, misalnya, bersedia memberikan pendampingan kepada toko lain kendati menjual produk serupa dan berpotensi menjadi pesaing.

“Ketika saya tanya, Bapak, Ibu, kenapa mau bina tetangga sebelah, warung yang juga saingan kamu, terus nanti kamu dapat apa?” katanya.

Jawaban para pemilik warung kelontong tersebut kemudian melekat di hati Romulus.

Mereka mengingatkan pada prinsip bahwa semakin banyak kebaikan yang ditabur, semakin banyak pula berkah yang akan dituai.

Praktik itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa kolaborasi tidak selalu harus berhenti ketika pelaku usaha berhadapan dengan kompetisi.

Romulus juga memperkenalkan Falsafah Tiga Tangan yang menjadi salah satu landasan Sampoerna dalam menjalankan bisnis dan program pemberdayaan. Ketiga prinsip itu meliputi menghasilkan produk berkualitas bagi konsumen dewasa, memberikan nilai kepada pemangku kepentingan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Prinsip tersebut dinilainya relevan bagi UMKM, terutama ketika produk lokal mulai diarahkan pada pasar yang lebih luas.

Cerita Pemberdayaan dari Daerah

Model pendampingan tersebut antara lain dijalankan Collaborator Hub asal Balikpapan, Nurul Ahdaniyah. Melalui PT Bungas Food Nusantara, dia mengembangkan minuman herbal Bungas Wedang Dayak sekaligus bekerja sama dengan 10 kelompok tani yang menanam bawang dayak.

“Melalui SETC ini saya bisa sharing dengan teman-teman bagaimana usaha bisa berkembang. Dan memang benar, ketika kita menanam kebaikan, kita akan menuai,” kata dia.

Selama mengikuti SETC, Nurul juga mempelajari cara ekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Nigeria, dan Australia. Dia berharap produk berbasis bawang dayak dapat memperoleh pasar yang semakin luas.

Cerita lain datang dari Collaborator Hub asal Kebumen, Novita atau Ovi, melalui Komunitas Pelepah Berdaya. Komunitas tersebut memanfaatkan limbah pelepah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi sekaligus memberikan pelatihan kepada warga lembaga pemasyarakatan.

“Saya itu grassroot, langsung ke masyarakat bawah banget, karena saya membina warga lembaga pemasyarakatan,” ujar dia.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait