“Kondisi di lapangan saat ini cukup dinamis. Produsen teh di Indonesia tengah berhadapan dengan masalah fluktuasi harga komoditas dan anomali cuaca berupa kemarau panjang atau El Nino. Faktor iklim ini sangat krusial karena secara langsung berdampak pada penurunan total kapasitas produksi teh secara nasional,” jelas Rediman.
Namun demikian, Rediman menegaskan bahwa kondisi tersebut justru menjadi pemacu bagi PTPN IV PalmCo untuk lebih adaptif. Pihaknya berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi agronomi demi mempertahankan tingkat produksi dan tidak mengorbankan kualitas daun teh yang dihasilkan.
“Di tengah tantangan El Nino, penghargaan yang diraih pabrik-pabrik kami membuktikan bahwa intervensi agronomi dan perbaikan tata kelola yang kami lakukan berada di jalur yang tepat (on the track). Tantangan cuaca tidak menyurutkan komitmen kami dalam menghadirkan secangkir teh terbaik bagi konsumen,” tutup Rediman.
Sebagai informasi, National Tea Competition 2026 melibatkan 74 sampel teh unggulan dari 32 perusahaan yang dinilai secara buta (blind testing) oleh dewan juri. Acara ini secara konsisten digelar untuk dan citra teh Indonesia di pasar dunia.
Tampilkan Semua
