Lima Buku Cerita Anak Bawa Kisah Perempuan Penjaga Hutan ke Indonesia International Book Fair 2026

Lima Buku Cerita Anak Bawa Kisah Perempuan Penjaga Hutan ke Indonesia International Book Fair 2026
Lima Buku Cerita Anak Bawa Kisah Perempuan Penjaga Hutan ke Indonesia International Book Fair 2026

Ani Tasriah berasal dari Desa Penyandingan dan Tessa Pranisti dari Desa Kota Padang, keduanya di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dengan pendampingan Pilar Nusantara (PINUS) Sumatera Selatan. Desa Kota Padang berada di kawasan Semende, yang memiliki adat tunggu tubang, yaitu tradisi yang menitipkan rumah dan kebun keluarga kepada anak perempuan tertua. Lilik Ernawati berasal dari Desa Karang Sidemen, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dengan pendampingan KONSEPSI NTB.

Ketiganya adalah bagian dari Women Forest Defenders, program The Asia Foundation di 4 provinsi (Sumatera  Barat, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Utara) dan level Nasional yang menghubungkan kelompok perempuan, lembaga adat, organisasi lokal, wirausaha sosial, dan pemerintah. Di empat provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat, program ini mencatat 24.292 hektare hutan yang pengelolaannya melibatkan kelompok perempuan secara aktif. Sebanyak 171 perempuan aktif menjaga hutan, 42 perempuan duduk di posisi pengambil keputusan, dan 16 usaha yang dipimpin perempuan telah menghasilkan pendapatan (The Asia Foundation, 2026).

“Hutan memberi kita banyak buah dan makanan yang lezat. Kalau ingin terus bisa menikmatinya, kita harus belajar menjadi anak yang bertanggung jawab: mengambil secukupnya, merawat pohonnya, dan tidak merusak rumah satwa yang tinggal di hutan,” ujar Women Forest Defenders dari Desa Penyandingan, Sumatera Selatan, Ani Tasriah.

“Untuk anak-anak kami, ingatlah bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas laki-laki. Perempuan juga bisa turun ke hutan, bersuara, mengambil keputusan, dan memimpin,” ujar Women Forest Defenders dari Desa Kota Padang, Sumatera Selatan, Tessa Pranisti.

Tessa berharap buku-buku ini bisa menumbuhkan keberanian anak perempuan sejak kecil. “Jangan pernah merasa kecil karena kamu perempuan. Dari tangan dan keberanianmu, hutan dan kehidupan bisa tetap terjaga. Tumbuhlah menjadi generasi yang berani memimpin, tetapi tetap rendah hati menjaga bumi tempat kita hidup,” katanya.

Hal serupa dijalani Lilik Ernawati di Karang Sidemen. Lewat KUPS Cempaka Empat yang ia pimpin, kelompok perempuan di desanya mengelola kopi, madu, dan ekowisata dari hutan desa, termasuk mengolah salak dan nangka hutan yang dulu tidak dilirik orang. Bagi Lilik, hutan yang dijaga hari ini adalah warisan untuk anak-anak kelak.

“Di tangan perempuan, hutan dijaga, dilindungi, dan diwariskan. Mari rawat hutan dengan cinta, agar hijaunya tetap menjadi cerita bagi anak cucu kita,” ujar Ketua KUPS Cempaka Empat, Desa Karang Sidemen, Nusa Tenggara Barat, Lilik Ernawati.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait