Road to ENSIA 2026: SUCOFINDO Perkuat Inovasi Berkelanjutan

Road to ENSIA 2026 SUCOFINDO Perkuat Inovasi Berkelanjutan
Road to ENSIA 2026 SUCOFINDO Perkuat Inovasi Berkelanjutan

Edward Nixon Pakpahan juga menyoroti pentingnya integrasi PROPER dengan implementasi ESG dan kewajiban pelaporan keberlanjutan bagi perusahaan publik sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja keberlanjutan perusahaan.

Selanjutnya, Pakar Manajemen Lingkungan, Sudharto P. Hadi, menekankan bahwa PROPER tidak lagi sekadar instrumen kepatuhan, melainkan katalis transformasi menuju bisnis berkelanjutan. Menurutnya, perusahaan perlu bergerak dari pendekatan reaktif menjadi proaktif, dari model ekonomi linier menuju ekonomi sirkular, serta mengintegrasikan inovasi lingkungan dan sosial ke dalam strategi bisnis untuk menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan masyarakat.

“Beyond compliance berarti perusahaan tidak berhenti pada pemenuhan regulasi. Perusahaan perlu menciptakan inovasi yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial dan lingkungan. Inilah esensi bisnis berkelanjutan yang akan menjadi fondasi daya saing perusahaan di masa depan,” jelasnya.

Dari sisi implementasi inovasi sosial, Project Manager Konsultansi PROPER PT SUCOFINDO (PERSERO), Retno Suryani membahas pentingnya integrasi inovasi sosial dalam implementasi PROPER, termasuk penguatan program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) sebagai bagian dari strategi pemberdayaan kelompok rentan. Materi ini menegaskan bahwa inovasi sosial perlu menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan perubahan sistemik, meningkatkan kapabilitas kelompok sasaran, serta mendukung keberlanjutan program melalui penguatan modal sosial dan ekonomi masyarakat.

“Inovasi sosial tidak lagi cukup dipandang sebagai program pendamping. Saat ini, inovasi sosial menjadi instrumen penting untuk menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan. Ketika perusahaan mampu mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dengan kebutuhan kelompok rentan, maka manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga memperkuat keberlanjutan bisnis perusahaan,” paparnya.

Sementara itu, Head of the GHG Validation and Verification Operations Subdivision PT SUCOFINDO (PERSERO), Fajar Firstya Adam membahas peran Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dalam mendorong transformasi bisnis berkelanjutan. Menurutnya, mekanisme karbon memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk melakukan pengurangan emisi secara terukur sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan teknologi rendah emisi.

“NEK memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengubah kinerja lingkungan menjadi nilai ekonomi. Dengan mekanisme yang kredibel dan berintegritas, dunia usaha dapat mempercepat upaya dekarbonisasi, memperkuat implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus meningkatkan daya saing pada era ekonomi rendah karbon,” tutupnya.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait